Laman

Rabu, 26 Mei 2010

LT III : GUDEP SMPN 3 BOBOTSARI RUTIN BERLATIH

Menjelang pelaksanaan LT III Pramuka Penggalang Kwarcab Kab. Purbalingga tanggal 21 - 23 Juni 2010 di Bumi Perkemahan Munjulluhur, Bojongsari - Purbalingga, Gugus Depan 06.509 - 06.510 SMP Negeri 3 Bobotsari akan mengirimkan 2 regu intinya yaitu regu Garuda (Pa) dan regu Melati (Pi).




Sejak dini, regu inti aktif berlatih sebagai persiapan mengikuti LT III. Dengan dipandu beberapa kakak pembina, yaitu Kak Awal Hidayat,S.Pd selaku Pimpinan Kontingen, Kak Endang Sugiarti, Kak Murningsih, Kak Riswanto, Kak Sri Wahyuningsih, Kak Heri Prasetyo, Kak Edi Susanto dan Kak Mulatsih Eri Marlina - regu inti Garuda dan Melati aktif setiap sore berlatih materi-materi yang akan dilombakan seperti Pionering, pidato bahasa Inggris, semaphore, morse, sandi, PBB, seni drama dll.

Dengan semboyan "Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka" mereka sangat antusias berlatih dan berkarya demi meraih cita dan cinta untuk SMP Negeri 3 Bobotsari.

MENSANA IN CORPORE SANO

Untuk menjaga kesehatan tubuh baik jasmani maupun rokhani, setiap Jumat SMP Negeri 3 Bobotsari melakukan kegiatan pembiasaan diri Senam Kesegaran Jasmani atau jalan-jalan keliling desa.Kegiatan ini dilakukan oleh seluruh warga sekolah, baik siswa, guru maupun staf tata usaha. Kegiatan ini juga dapat menjalin kekompakan dan kebersamaan antarwarga sekolah. Sudah menjadi agenda rutin, dan agar tubuh dan jiwa tetap sehat kita memang harus rajin berolah raga.

Mensana in corpore sano,

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat

SHOLAT BERJAMA'AH : PEMBINAAN AKHLAK SISWA

Dalam rangka membina akhlak generasi muda dan membentengi arus globalisasi, SMP Negeri 3 Bobotsari secara rutin dan terprogram melakukan pembiasaan diri kepada siswa-siswinya untuk melakukan kegiatan ibadah sholat dhuhur berjamaah secara bergiliran dan setiap hari Jumat melakukan Sholat Jum'at berjama'ah.Setiap masuk waktu sholat dhuhur, secara rutin dikumandangkan adzan. Sebagai muadzin adalah siswa SMP Negeri 3 Bobotsari yang telah disusun sesuai jadwal. Pembiasaan ibadah sholat dhuhur berjama'ah ini dikomandani oleh Bapak Solikhat,Amd.Pd salah satu guru PAI SMP Negeri 3 Bobotsari.
Kegiatan pembiasaan ini telah berlangsung sejak lama, dan alhamdulillah pada tahun pelajaran ini dapat berlangsung lebih baik daripada kemarin dan mudah-mudahan pada tahun pelajaran yang akan datang lebih meningkat apalagi dengan adanya bangunan musholla baru lengkap dengan pengeras suaranya. Ini akan menambah suasana religius di lingkungan SMP Negeri 3 Bobotsari.Harapannya siswa-siswi SMP Negeri 3 Bobotsari dan alumni-alumninya kelak menjadi generasi yang berakhlak mulia, berprestasi dan mandiri sesuai dengan visi SMP Negeri 3 Bobotsari.

MOTIVASI SISWA : PENGHARGAAN SEKOLAH

Penghargaan yang diberikan oleh sekolah kepada siswa yang berprestasi baik dibidang akademik maupun non akademik, akan menjadi motivasi tersendiri bagi siswa yang bersangkutan. Adalah SMP Negeri 3 Bobotsari, dalam memotivasi siswa dalam meraih prestasi - setiap siswa yang berprestasi selalu diberi penghargaan dalam bentuk piagam maupun bentuk lain. Seperti prestasi siswa dalam Lomba Try Out UASBN SD/MI se Kec. Bobotsari, peringkat 1 s.d 3 mendapat piagam, piala dan juga kenang-kenangan, peringkat 4 - 10 mendapat piagam dan kenang-kenangan.
Tidak hanya itu saja, dalam upacara bendera yang dilakukan pada hari Senin, 24 mei 2010 kemarin juga dilakukan pemberian penghargaan kepada siswa yang meraih Nilai UN tertinggi di SMP Negeri 3 Bobotsari. Ketiga siswa yang mendapat penghargaan dari kepala sekolah Bapak Eko Budi Santosa,S.Pd adalah:

1) Siti Nur Khotijah;
2) Karyono;
3) Tsalisa Yulianti
Mereka bertiga mendapat piagam penghargaan dan juga beasiswa dari sekolah. Ini adalah wujud penghargaan SMP Negeri 3 Bobotsari terhadap siswa-siswi yang berprestasi dan harapannya dapat mendorong siswa-siswi lain untuk ikut mengikuti jejaknya.

"Sekolah ini besar dan namanya harum di masyarakat atau di tingkat kabupaten karena prestasi mereka - kami hanya memfasilitasi dan membimbingnya. Anak-anak kamilah yang membesarkan sekolah ini ...!" kata kepala sekolah.

SUPERVISI MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU

Guru sebagai tenaga pendidik sekaligus pembimbing siswa, dalam tugas kesehariannya perlu dilakukan kegiatan supervisi baik secara internal oleh kepala sekolah maupun oleh pengawas. Kegiatan supervisi ini bertujuan untuk meningkatkan profesionlisme guru baik dalam segi administrasi mengajar, proses belajar mengajar, maupun evaluasi pembelajaran.
Melalui supervisi ini diharapkan seorang guru terpacu untuk melakukan terobosan-terobosan / inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran yang muaranya pada keberhasilan peserta didik baik prestasi akademik maupun non akademik.

Supervisi yang dilakukan secara terus menerus dan terprogram akan berdampak positif pada keberhasilan guru dalam mengelola kelas, karena hasil supervisi ini akan dijadikan sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran selanjutnya.


Adalah keliru, jika kita sebagai guru masih takut dan tidak siap dilakukan supervisi setiap waktu. Setiap hari guru sudah dan telah melakukan tugasnya yaitu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, menganalisis dan melakukan tindak lanjut program, kenapa mesthi takut ? Banyak alasan yang sering kita katakan, RPP belum jadi, promes-nya hilang, prota-nya disobek anak, ... pokoknya banyak alasan, yang akhirnya kita mengambil jalan pintas hanya untuk melengkapi dokumen administrasi guru. Kebiasaan seperti itu jangan dibiasakan ... jangan diulangi lagi. Mari, mari kita belajar memperbaiki kebiasaan yang kurang baik itu.


Kita mesthi malu dan isin, guru sekarang sudah dapat pengakuan dari guru umar bakri menjadi guru sertifikasi. Guru sekarang telah bersertifikasi...profesional, kalau boleh saya katakan guru sertifikasi sudah sejajar dengan dokter spesialis. Dokter spesialis harganya mahal .... demikian juga guru sertifikasi harganya juga mahal ? Apa betul !

OK.. berbicara supervisi guru, memang benar bahwa secara tidak langsung kegiatan supervisi dapat meningkatan profesionalisme guru. Kita dapat membayangkan jika suatu sekolah tidak pernah dilakukan supervisi, bagaimana kita dapat mengetahui perkembangan peserta didik dan inovasi-inovasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan juga sejauh mana kelengkapan bukti fisik perangkat mengajar yang
dibuat guru ?

Banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai guru agar kita senantiasa siap dilakukan supervisi baik oleh kepala sekolah maupun oleh pengawas, dan kita dianggap sebagai guru yang profesional. Yaitu mulai dari diri sendiri dulu dan dari hal-hal yang kecil.

A. Administrasi Mengajar
  • Mempelajari silabus yang telah ada dan bila perlu kita latihan mengembangkannya sesuai dengan sekolah kita
  • Menyusun prota kembali jangan asal nyontho
  • Menyusun promes, bila perlu dengan melihat kalender akademik atau kelender umum, kita berlatih menyusun minggu efektif dan minggu non efektif
  • Latihan membagi jumlah jam pelajaran, disesuaikan dengan SK dan KD-nya
  • RPP yang sudah ada, kita coba buat kembali dengan bahasa sendiri dan disesuaikan dengan keadaan sekolah kita. Seperti jika alat praktek belum ada jangan ditulis siswa mempraktekkkan percobaan "A" misalnya.
  • Waktu-waktu luang yang ada kita gunakan untuk memperbaiki perangkat KBM.
B. Inovasi Pembelajaran
  • Banyak membaca buku tentang inovasi pembelajaran
  • Kita berlatih hal-hal yang mudah, seperti membuat charta, peta, menulis lagu, membuat puisi dll. dalam pembelajaran
  • Belajar dari sumber lain yang dapat kita adopsi untuk pembelajaran di kelas seperti pertunjukkan wayang kulit, gaya kyai dalam pengajian umum dll.
  • Berlatih menulis artikel untuk konsumsi sendiri atau di lingkup sekolah, dipublikasikan di mading atau di perpustakaan.
  • Sering berlatih melakukan penelitian pendidikan yang ringan yang kita paham alurnya dan mudah dalam proses pengambilan data.
  • Mulailah berlatih melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan sampel, metode dan siklus yang sederhana terlebih dahulu
C. Profesional
  • Jika kita sebagai guru ingin lebih profesional dalam pembelajaran dan penyampaian materi belajar maka kita mau tidak mau harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Syaratnya : memiliki dan mampu mengoperasikan software-software komputer baik PC maupun Notebook, memiliki kamera digital, dan berinternetan.

Kamis, 13 Mei 2010

Empat Pilar Belajar

Untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan dunia yang sangat cepat, Unesco (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005) merumuskan empat pilar belajar, yaitu: belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar berkembang secara utuh (learning to be).

1. Belajar mengetahui (learning to know)

Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll.
Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Learning the Treasure Within, menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai alat (mean) dan pengetahuan sebagai hasil (end). Sebagai alat, pengetahuan digunakan untuk pencapaian berbagai tujuan, seperti: memahami lingkungan, hidup layak sesuai kondisi lingkungan, pengembangan keterampilan bekerja, berkomunikasi. Sebagai hasil, pengetahuan mereka dasar bagi kepuasaan memahami, mengetahui dan menemukan.
Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).

2. Belajar berkarya (learning to do)

Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).

3. Belajar hidup bersama (learning to live together)

Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama.Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama)

4. Belajar berkembang utuh (learning to be)

Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.

7 PRINSIP PEMBELAJARAN YANG BAIK

Dibawah ini adalah 7 prinsip pembelajaran yang baik menurut Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson :

1. Encourages Contact Between Students and Faculty

Frekuensi kontak antara guru dengan siswa, baik di dalam maupun di luar kelas merupakan faktor yang amat penting untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam belajar. Dengan seringnya kontak antara guru-siswa ini, guru dapat lebih meningkatkan kepedulian terhadap siswanya. Guru dapat membantu siswa ketika melewati masa-masa sulitnya. Begitu juga, guru dapat berusaha memelihara semangat belajar, meningkatkan komitmen intelektual siswa, mendorong mereka untuk berpikir tentang nilai-nilai mereka sendiri serta membantu menyusun rencana masa depannya.

2. Develops Reciprocity and Cooperation Among Students

Upaya meningkatkan belajar siswa lebih baik dilakukan secara tim dibandingkan melalui perpacuan individual (solo race). Belajar yang baik tak ubahnya seperti bekerja yang baik, yakni kolaboratif dan sosial, bukan kompetitif dan terisolasi. Melalui bekerja dengan orang lain, siswa dapat meningkatkan keterlibatannya dalam belajar. Saling berbagi ide dan mereaksi atas tanggapan orang lain dapat semakin mempertajam pemikiran dan memperdalam pemahamannya tentang sesuatu.

3. Encourages Active Learning

Belajar bukanlah seperti sedang menonton olahraga atau pertunjukkan film. Siswa tidak hanya sekedar duduk di kelas untuk mendengarkan penjelasan guru, menghafal paket materi yang telah dikemas guru, atau menjawab pertanyaan guru. Tetapi mereka harus berbicara tentang apa yang mereka pelajari dan dapat menuliskannya, mengaitkan dengan pengalaman masa lalu, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka harus menjadikan apa yang mereka pelajari sebagai bagian dari dirinya sendiri.

4. Gives Prompt Feedback

Siswa membutuhkan umpan balik yang tepat dan memadai atas kinerjanya sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari apa yang telah dipelajarinya. Ketika hendak memulai belajar, siswa membutuhkan bantuan untuk menilai pengetahuan dan kompetensi yang ada. Di kelas, siswa perlu sering diberi kesempatan tampil dan menerima saran agar terjadi perbaikan. Dan pada bagian akhir, siswa perlu diberikan kesempatan untuk merefleksikan apa yang telah dipelajari, apa yang masih perlu diketahui, dan bagaimana menilai dirinya sendiri.

5. Emphasizes Time on Task

Waktu + energi = belajar. Memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya merupakan sesuatu yang sangat penting bagi siswa. Siswa membutuhkan bantuan dalam mengelola waktu efektif belajarnya. Mengalokasikan jumlah waktu yang realistis artinya sama dengan belajar yang efektif bagi siswa dan pengajaran yang efektif bagi guru. Sekolah seyogyanya dapat mendefinisikan ekspektasi waktu bagi para siswa, guru, kepala sekolah, dan staf lainnya untuk membangun kinerja yang tinggi bagi semuanya

6. Communicates High Expectations

Berharap lebih dan Anda akan mendapatkan lebih. Harapan yang tinggi merupakan hal penting bagi semua orang. Mengharapkan para siswa berkinerja atau berprestasi baik pada gilirannya akan mendorong guru maupun sekolah bekerja keras dan berusaha ekstra untuk dapat memenuhinya

7. Respects Diverse Talents and Ways of Learning

Ada banyak jalan untuk belajar. Para siswa datang dengan membawa bakat dan gaya belajarnya masing-masing Ada yang kuat dalam matematika, tetapi lemah dalam bahasa, ada yang mahir dalam praktik tetapi lemah dalam teori, dan sebagainya. Dalam hal ini, siswa perlu diberi kesempatan untuk menunjukkan bakatnya dan belajar dengan cara kerja mereka masing-masing. Kemudian mereka didorong untuk belajar dengan cara-cara baru, yang mungkin ini bukanlah hal mudah bagi guru untuk melakukannya.

Pada bagian lain, Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson mengatakan bahwa guru dan siswa memegang peran dan tanggung jawab penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran, tetapi mereka tetap membutuhkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak untuk membentuk sebuah lingkungan belajar yang kondusif bagi praktik pembelajaran yang baik. Adapun yang dimaksud dengan lingkungan tersebut meliputi: (a) adanya rasa tujuan bersama yang kuat; (b) dukungan kongkrit dari kepala sekolah dan para administrator pendidikan untuk mencapai tujuan ; (c) dana yang memadai sesuai dengan tujuan; (d) kebijakan dan prosedur yang konsisten dengan tujuan; dan (e) evaluasi yang berkesinambungan tentang sejauhmana ketercapaian tujuan.

Adaptasi dan terjemahan bebas dari: Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson.