Laman

Senin, 30 Agustus 2010

Alessandro Giuseppe Antonio Anastasio Volta


Alessandro Giuseppe Antonio Anastasio Volta (18 Februari 1745 - 5 Maret 1827) adalah seorang fisikawan Italia. Ia terutama dikenal karena mengembangkan baterai pada tahun 1800. Ia melanjutkan pekerjaan Luigi Galvani dan membuktikan bahwa teori Galvani yaitu efek kejutan kaki kodok adalah salah. Secara fakta, efek ini muncul akibat 2 logam tak sejenis dari pisau bedah Galvani. Berdasarkan pendapat ini, Volta berhasil menciptakan Baterai Volta (Voltac Pile). Atas jasanya, satuan beda potensial listrik dinamakan Volt.

Minggu, 29 Agustus 2010

TUPOKSI PENGELOLA LABORATORIUM IPA SMP NEGERI 3 BOBOTSARI

  1. KEPALA SEKOLAH
  • Memberi tugas kepada personil-personil yang menjadi tanggung jawabnya
  • Memberi bimbingan, motivasi, pemantauan, dan evaluasi kinerja petugas
  • Memotivasi guru ipa untuk kegiatan laboratorium
  • Menyediakan dana operasional kegiatan laboratorium

  1. WAKIL KEPALA URUSAN KURIKULUM
  • Membantu tugas kepala sekolah dalam bidang kegiatan pembelajaran di laboratorium

  1. WAKIL KEPALA URUSAN SARANA PRASARANA
  • Membantu tugas kepala Sekolah dalam bidang sarana dan prasarana laboratorium

  1. KOORDINATOR LABORATORIUM
  • Bertanggung jawab atas administrasi laboratorium
  • Bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan laboratorium
  • Mengusulkan kepada kepala sekolah tentang pengadaan alat dan bahan
  • Mengkoordinasikan guru-guru IPA dalam penggunaan laboratorium

  1. PENANGGUNG JAWAB LAB. IPA FISIKA
  • Bertanggung jawab atas administrasi laboratorium IPA Fisika
  • Bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan laboratorium IPA Fisika
  • Mengusulkan kepada koordinator laboratorium tentang pengadaan alat dan bahan
  • Mengkoordinasikan guru-guru IPA Fisika dalam penggunaan laboratorium

  1. PENANGGUNG JAWAB LAB. IPA BIOLOGI
  • Bertanggung jawab atas administrasi laboratorium IPA Biologi
  • Bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan laboratorium IPA Biologi
  • Mengusulkan kepada koordinator laboratorium tentang pengadaan alat dan bahan
  • Mengkoordinasikan guru-guru IPA Biologi dalam penggunaan laboratorium

  1. LABORAN IPA / TEKNISI
  • Mengerjakan tugas-tugas administrasi laboratorium
  • Menyimpan semua alat dan bahan secara rapi sesuai dengan jenisnya
  • Mempersiapkan dan menyimpan kembali alat dan bahan yang telah digunakan
  • Merawat semua alat/bahan/fasilitas laboratorium
  • Bertanggung jawab atas kebersihan alat dan ruang laboratorium beserta perlengkapan lainnya

TATA TERTIB LABORATORIUM SMP NEGERI 3 BOBOTSARI

A. TAHAP PERSIAPAN

  1. Siswa masuk atau keluar ruang Laboratorium harus seizin guru/pengelola Laboratorium.
  2. Mempersiapkan diri baik secara penguasaan materi dan kegiatan yang akan dilakukan dengan membaca terlebih dahulu petunjuk praktikum.
  3. Menyiapkan Alat dan Bahan sesuai dengan keperluan Praktikum.
  4. Jika ada alat yang rusak / pecah hendaknya segera dilaporkan kepada guru atau petugas Laboratorium.

B. TAHAP PELAKSANAAN

  1. Melakukan kegiatan sesuai petunjuk praktikum, bekerjalah dengan baik dan benar jangan bekerja menurut kehendaknya sendiri.
  2. Bila dalam melakukan pekerjaan ada hal-hal yang tidak jelas dan tidak dimengerti harus segera bertanya kepada guru / pengelola Laboratorium.
  3. Melakukan kegiatan penuh tanggungjawab, aktivitas dan berjiwa kompetitif.

C. TAHAP PENUTUP

  1. Setelah selesai melakukan kegiatan praktikum, alat-alat / bahan harus segera dikembalikan ke tempat semula dalam keadaan bersih dan baik.
  2. Jika ada alat yang rusak / pecah karena sengaja hendaknya segera dilaporkan kepada guru atau petugas Laboratorium dan harus mengganti.
  3. Ketika akan meninggalkan Laboratorium, meja dan kursi harus tertata rapi dan bersih.
  4. Membuat laporan Praktikum sesuai ketentuan.

Bobotsari, 1 Juli 2010
Kepala Sekolah



Eko Budi Santosa,S.Pd
NIP. 19670907 199303 1 008

VISI & MISI LABORATORIUM IPA SMP NEGERI 3 BOBOTSARI

VISI

Menjadikan laboratorium IPA SMP Negeri 3 Bobotsari sebagai sarana kegiatan peserta didik dan guru dalam proses pembelajaran melalui praktikum dan/ atau penelitian untuk menghasilkan lulusan yang bermutu.

MISI

1. Menyelenggarakan administrasi laboratorium IPA yang baik dan tertib pada setiap tahun pelajaran.

2. Pengadaan sarana dan prasarana laboratorium IPA secara kontinyu untuk meningkatkan layanan praktikum IPA, baik dalam proses pembelajaran maupun penelitian.

3. Menyelenggarakan kegiatan praktikum IPA Fisika, Biologi dan Kimia minimal 5 (lima) kegiatan praktikum pada setiap tahun pelajaran.

4. Menyelenggarakan layanan penelitian dan pengembangan karya ilmiah bagi peserta didik, guru, dan pengguna lain.

Jumat, 27 Agustus 2010

Pada Mulanya Alam Sebesar Kacang

AHLI fisika-matematika Stephen Hawking dan Neil Turok dari Universitas Cambridge, pernah mengemukakan teori mengenai asal-usul alam semesta.

Menurut Hawking, alam semesta pada mulanya berupa sebuah benda sebesar kacang (kacang hijau) yang ada (existed) sepersekian detik sebelum terjadinya Dentuman Besar (Big Bang) 12 miliar tahun silam.

Teori terakhir sebelum ini, termasuk salah satu teori Hawking sendiri, menyebutkan alam semesta pada mulanya berupa sebuah benda sangat padat --berupa titik, jadi satu dimensi-- yang mengembang atau mengalami ekspansi menjadi jagat raya mahaluas seperti yang kita diami sekarang ini setelah Dentuman Besar terjadi 12 miliar tahun silam.

Unsur baru dalam teori alam semesta mirip kacang dari Hawking-Turok adalah "pada mulanya" itu berupa sebuah "benda tiga dimensi," bukan "benda titik satu dimensi." Hal ini akan memberi konsekuensi panjang yang bersifat matematis dan filosofis pada studi fisika dan astronomi modern yang berlangsung dewasa ini.

Teori baru yang dinamakan Inflasi Terbuka itu juga memostulatkan, alam semesta akan terus mengembang ke "tak-berhinggaan" yang menjelaskan bagaimana materi dahulu diciptakan. Ia dapat pula memecahkan persamaan gravitasi Einstein yang terkenal mahasulit.

Turok yakin, teorinya akan diterima oleh komunitas sains. "Ini merupakan jawaban terbaik bagi setiap orang yang mempelajari bagaimana alam semesta berawal," katanya.

Hawking dan Turok yakin beberapa saat -- walau pada "waktu" itu belum ada apa yang dinamakan sebagai "ruang" dan "waktu" -- sebelum Dentuman Besar, alam semesta sebesar kacang itu tertunda mengembang di kehampaan-tak-mengenal-waktu yang sedang mengalami masa-masa ekspansi cepat. Ekspansi sudah berlangsung beberapa saat dengan sangat singkat sebelum ledakan (Dentuman Besar) terjadi.

"Anda pasti berpikir, tidaklah mungkin mendapatkan alam semesta tanpa batas (infinite) dari sebuah benda yang terbatas (finite)," kata Turok.

"Kedengarannya paradoks, tapi teori kami ini tidak hanya mencakup terbentuknya alam semesta mirip kacang yang kecil ini, tapi keseluruhan masa depan alam semesta," tambahnya.

Hawking dan Turok merumuskan teori mereka dengan melakukan akrobat matematika terhadap hukum-hukum fisika ketimbang melakukan pengamatan "langsung" terhadap bintang-bintang dan benda-benda alam semesta.

Sepertriliun Detik, Alam Tercipta

Kalau selama ini terbentuknya alam semesta hanya terbukti secara teori, kini astronom menemukan jejak-jejak baru awal mula alam semesta. Hasil penelitian melalui pengamatan (observasi) menunjukkan bahwa alam semesta terbentuk kurang dari sepertriliun detik saja.

Astronom NASA merilis hasil temuan tentang adanya radiasi gelombang mikro (microwave) purba yang tercipta saat awal alam semesta. Gelombang microwave purba ini terus bergerak yang seolah membenarkan teori inflasionernya alam semesta.

Bukti baru itu menunjukkan bahwa alam semesta tiba-tiba tumbuh dari ukuran submikroskopis ke ukuran astronomis dalam rentang waktu kurang dari kedipan mata saja.

"Membesarnya alam semesta secara luar biasa ini terjadi kurang dari sepertriliun detik," kata fisikawan Universitas Johns Hopkins, Charles Bennett.

Bukti akan keberadaan gelombang microwave purba ini ditemukan oleh salah satu satelit NASA, yaitu Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP). Wahana antariksa ini diluncurkan NASA pada 2001. Setelah mengangkasa selama tiga tahun di ketinggian 1,6 juta kilometer dari permukaan bumi, WMAP menemukan bukti-bukti ilmiah itu.

Satelit angkasa ini dilengkapi dengan dua teleskop yang dapat menangkap gelombang microwave. Rencananya, WMAP yang mengelilingi bumi setiap enam kali dalam sebulan ini akan bertugas menangkap gelombang microwave purba hingga 2009.

Bukti adanya gelombang purba diketahui setelah astronom menganalisis variasi spektrum cahaya di angkasa. Deteksi WMAP menunjukkan bahwa cahaya itu dihasilkan saat alam semesta terbentuk 1,37 miliar tahun yang lalu. Gelombang ini terlihat dalam ukuran microwave dengan daya yang lemah.

Cahaya lemah ini muncul pertama kali saat alam semesta berumur 300.000 tahun. Pada waktu itu, radiasi mikroskopis masih memancar pada suhu mendekati nol dan temperatur yang membuat semua gerak atom terhenti. Cahaya purba ini membantu astronom memahami perbedaan temperatur di alam semesta muda.

Astronom mengatakan, perbedaan temperatur ini menunjukkan pola terbentuknya bintang, galaksi, dan planet.

Bagaimana astronom bisa membedakan gelombang mikro itu berasal dari awal terbentuknya alam semesta? Melalui sensor canggih WMAP, cahaya lemah dari awal alam semesta itu dipolarisasi dan disaring, sehingga diketahui fluktuasi kecerlangan cahayanya yang tersebar saat Big Bang terjadi. Dari sinilah astronom bisa mengetahui mana yang termasuk cahaya dari awal alam semesta.

"Ini sungguh membuat saya takjub, kita bisa menceritakan bahwa segalanya terjadi dalam sepertriliun detik itu," ujar Bennett.

Temuan WMAP ini membenarkan perkiraan para astronom tentang terbentuknya alam semesta sekitar 1,37 miliar tahun lampau. Akan tetapi, temuan itu merevisi perkiraan astronom sebelumnya tentang lahirnya bintang. Kalau semua astronom memperkirakan bintang terbentuk 200 juta tahun setelah Big Bang, hasil deteksi WMAP menunjukkan bintang lahir 400 juta tahun setelah dentuman besar itu.

Selain membuktikan akan kebenaran teori inflasioner bahwa alam semesta itu bergerak atau melakukan ekspansi, analisis terhadap cahaya yang ditangkap WMAP itu juga mengungkap tentang keberadaan energi gelap (dark energy).

Teori inflasioner dikemukakan pertama kali oleh astronom yang juga fisikawan Amerika, Alan Guth, pada 1979. "Ini menjadi suatu kemenangan bagi teori Guth setelah hampir 25 tahun kemudian kita memperoleh gambaran detil tentang inflasioner ini," kata kosmolog Paul Davies dari Universitas Macquarie.

Astronom semula hanya memperkirakan keberadaan dark energy ini secara teori. Namun, hasil observasi WMAP membenarkan akan adanya energi gelap tersebut. Dark energy adalah energi yang sampai saat ini belum diketahui persis apa komposisinya. Tapi yang pasti, dark energy mengisi hampir 74 persen ruang kosong di alam semesta.

Dalam teori inflasioner dinyatakan bahwa pada saat dentuman besar terjadi, alam semesta berada dalam ukuran mikroskopis. Namun, tiga peristiwa telah mengubahnya menjadi berukuran astronomis, yaitu terjadi fluktuasi temperatur yang luar biasa tingginya, ledakan yang mengubah energi menjadi materi, dan perluasan atau ekspansi sangat cepat yang akhirnya memungkinkan bintang dan galaksi terbentuk.***

Sumber: Kompas
Foto: NASA

Strategi Pembelajaran IPA

Beberapa pendekatan yang dianjurkan untuk digunakan dalam pembelajaran IPA diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Pendekatan Inkuiri

Pembelajaran IPA berbasis inkuiri dideskripsikan dengan mengajak siswa dalam kegiatan yang akan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA sebagaimana para saintis mempelajari dunia alamiah.

Trowbridge, et al. (1973) mengajukan tiga tahap pembelajaran berbasis inkuiri. Tahap pertama adalah belajar diskoveri, yaitu guru menyusun masalah dan proses tetapi memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi hasil alterna-tif. Tahap kedua inkuiri terbimbing (guided inquiry), yaitu guru me-ngajukan masalah dan siswa menentukan penyelesaian dan prosesnya. Tahap ketiga, adalah inkuiri terbuka (open inquiry), yaitu guru hanya memberikan konteks masalah sedangkan siswa mengindentifikasi dan memecahkannya.

Menurut NRC (1996) pembelajaran berbasis inkuiri meliputi kegiatan observasi, mengajukan pertanyaan, memeriksa buku-buku dan sumber-sumber lain untuk melihat informasi yang ada, merencanakan penyelidikan, me-rangkum apa yang sudah diketahui dalam bukti eksperimen, menggunakan alat untuk mengumpulkan, menganalisis dan interpretasi data, mengajukan jawaban, penjelasan, prediksi, serta mengkomunikasikan hasil. Dari pandangan pedagogi, pengajaran IPA berorientasi inkuiri lebih mencerminkan model belajar konstruktivis. Belajar adalah hasil perubahan mental yang terus mene-rus sebagaimana kita membuat makna dari pengalaman kita.

Menurut NSTA & AETS (1998) jantungnya inkuiri adalah kemampuan mengajukan pertanyaan dan mengidentifikasi penyelesaian masalah. Karena itu dalam pembelajaran seharusnya guru lebih banyak mengajukan pertanya-an open ended dan lebih banyak merangsang diskusi antar siswa. Keterampilan bertanya dan mendengarkan secara efektif penting untuk keberhasilan mengajar.

Selain itu inkuiri memerlukan keterampilan dalam menganalisis data dan menilai hasil untuk mendapatkan kesimpulan yang valid dan masuk akal. Siswa IPA seharusnya diberi kesempatan untuk menganalisis data selama pembekalannya. Mereka seharusnya memperoleh tingkat kecakapan yang memadai dalam mengumpulkan dan menganalisis data dalam berbagai format (terbuka dan tertutup) dan dapat menggunakan kriteria ilmiah untuk membedakan ke-simpulan yang valid dan tidak valid.

Dalam konteks inkuiri, assesmen yang dilakukan adalah berbasis kelas dengan harapan dapat mengambil pandangan yang luas dari pengalaman belajar siswa. Assesmen dalam pembelajaran berbasis inkuiri berbeda dari as-sesmen tradisional (NRC, 2000). Untuk memahami kemampuan siswa dalam berinkuiri dan memahami prosesnya dapat dilakukan baik berdasarkan pada analisis kinerja di dalam kelas maupun pada hasil kerja mereka. Kemampuan siswa yang seharusnya dinilai adalah kemampuan dalam mengajukan perta-nyaan yang dapat diteliti, merencanakan investigasi, melaksanakan rencana penelitiannya, mengembangkan penjelasan yang mungkin, menggunakan data sebagai bukti untuk menjelaskan atau untuk menolak penjelasan, dan laporan penelitiannya (NRC, 2000).

Pada saat siswa melakukan kegiatan inkuiri guru melakukan observasi untuk setiap kinerja siswa, seperti presentasi siswa di kelas, interaksi dengan teman, penggunaan komputer, penggunaan alat-alat laboratorium. Guru juga mempunyai hasil kerja siswa secara individual meliputi draft pertanyaan penelitian, kritik dari siswa-siswa lain, dan jurnal siswa. Observasi kinerja siswa dan hasilnya adalah sumber data yang kaya untuk guru membuat inferensi tentang setiap pemahaman siswa tentang inkuiri ilmiahnya (NRC, 1996).

2. Pendekatan Salingtemas

Untuk mewujudkan sekolah sebagai bagian dari masyarakat dan lingkungan, pembelajaran IPA dikembangkan dengan pendekatan sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat (salingtemas). Dalam proses pembelajarannya, IPA tidak hanya mempelajari konsep-konsep tetapi juga diperkenalkan pada aspek teknologi dan bagaimana teknologi itu berperan di masyarakat serta bagaimana akibatnya pada lingkungan.

Pembelajaran sains dengan pendekatan yang mencakup aspek teknologi dan masyarakat mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara konvensional. Perbedaan tersebut meliputi: kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Dengan mengkaitkan serta mengaplikasikan bahan pelajaran sains ke teknologi dan masyara-kat, diharapkan siswa dapat menghubungkan materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari, serta perkembangan teknologi dan relevansinya. De-ngan pengkaitan dan pengaplikasian tersebut kreativitas siswa untuk lebih banyak bertanya dan mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan efek dari hasil observasi makin meningkat. Selain itu sikap siswa dalam bentuk kesadaran akan pentingnya mempelajari sains untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi melalui proses sains yang benar juga meningkat (Poedjiadi, 2000).

3. Pendekatan Pemecahan Masalah

Menurut The National Science Teachers Association (NSTA) tahun 1985, pemecahan masalah merupakan kemampuan yang sangat penting yang harus dikembangkan dalam pembelajaran sains. Pemecahan masalah adalah hasil aplikasi pengetahuan dan prosedur kepada suatu situasi masalah. Ada empat tingkatan dalam pemecahan masalah, yaitu: (1) definisi masalah, (2) seleksi informasi yang tepat, (3) penggabungan bagian-bagian informasi yang terpisah-pisah, dan (4) menilai pemecahan masalah.

Untuk memecahkan suatu masalah pada dasarnya diperlukan pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural dan pengetahuan struktural (Gagne, 1977). Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan yang dapat dikomunikasikan, misalnya fakta, konsep, aturan, dan prinsip. Pengetahuan prosedural menggambarkan tahap penampilan seseorang dalam menyelesaikan tugas tertentu. Pengetahuan struktural merupakan interaksi antara pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural dalam situasi memecahkan masalah.

Salah satu cara menilai pemecahan masalah dalam pendidikan sains dilakukan dengan menggunakan analisis tugas prosedural (Barba & Rubba, 1992). Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa tahapan pemecahan masalah identik dengan tahapan memperoleh pengetahuan yang digunakan oleh para perencana sistem pengajaran. Analisis tugas prosedural (procedural task analysis atau task analysis atau task hierarchi analysis), digunakan untuk memecahkan tugas menjadi beberapa komponen, mengorganisasikan hubungan antara masing-masing tugas dan untuk menghasilkan penyelesaian tugas dengan tepat.

Cara penilaian penyelesaian masalah dalam pembelajaran dengan analisis tugas adalah: (1) dibuat prosedural tertulis, untuk menentukan pengetahuan deklaratif atau pengetahuan prosedural yang digunakan subyek dalam me-mecahkan masalah; (2) dibuat rekaman dengan audio/videotape saat subJek memecahkan masalah; (3) dibuat catatan observasi/interview, transkrip dan dicatat variabel-variabel saat pemecahan masalah dilakukan, berdasarkan tugas yang menjadi acuan; dan (4) dibuat analisisis akhir.

4. Pendekatan Keterampilan Proses Sains (KPS)

Pendekatan KPS merupakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada proses IPA, berupa keterampilan-keterampilan yang dimiliki para ilmuwan IPA untuk menghasilkan produk IPA yang satu sama lain sebenarnya tak dapat dipisahkan. Keterampilan-keterampilan yang dimaksud dijelaskan berikut ini (Rustaman, 2003).

a. Mengamati

Untuk dapat mencapai keterampilan mengamati siswa harus mengguna-kan sebanyak mungkin inderanya, yaitu indera penglihat, pembau, pen-dengar, pengecap dan peraba. Dengan demikian ia dapat mengumpulkan dan menggunakan fakta-fakta yang relevan dan memadai.

b. Menafsirkan pengamatan (interpretasi)

Untuk dapat menafsirkan pengamatan, siswa harus dapat mencatat setiap pengamatan, lalu menghubung-hubungkan pengamatannya sehingga ditemukan pola atau keteraturan dari suatu seri pengamatan.

c. Mengelompokkan (klasifikasi)

Dalam proses pengelompokan tercakup beberapa kegiatan seperti mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan, dan mencari dasar penggolongan.

d. Meramalkan (prediksi)

Keterampilan prediksi mencakup keterampilan mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi atau belum diamati berdasarkan suatu kecenderungan atau pola yang sudah ada.

e. Berkomunikasi

Untuk mencapai keterampilan berkomunikasi, siswa harus dapat berdiskusi dalam kelompok tertentu serta menyusun dan menyampaikan laporan tentang kegiatan yang dilakukannya secara sistematis dan jelas. Siswa juga harus dapat menggambarkan data yang diperolehnya dalam bentuk grafik, tabel atau diagram.

f. Berhipotesis

Berhipotesis dapat berupa pernyataan hubungan antar variabel atau mengajukan perkiraan penyebab terjadinya sesuatu. Dengan berhipotesis terungkap cara melakukan pemecahan masalah, karena dalam rumusan hipotesis biasanya terkandung cara untuk mengujinya.

g. Merencanakan percobaan atau penelitian

Agar siswa dapat merencanakan percobaan, ia harus dapat menentukan alat dan bahan yang akan digunakan. Selanjutnya siswa harus dapat me-nentukan variabel yang dibuat tetap dan variabel yang berubah, menentukan apa yang dapat diamati, diukur atau ditulis, serta menentukan cara dan langkah-langkah kerja. Selain itu siswa juga harus dapat menentukan cara mengolah data sebagai bahan untuk menarik kesimpulan.

h. Menerapkan konsep atau prinsip

Dengan menggunakan konsep yang telah dimiliki, siswa seharusnya dapat menerapkan konsep tersebut pada peristiwa atau pengalaman baru yang terkait dengan cara menjelaskan apa yang terjadi.

i. Mengajukan pertanyaan

Pertanyaan yang diajukan dalam mengembangkan keterampilan ini dapat meminta penjelasan tentang apa, mengapa, bagaimana atau menanyakan latar belakang hipotesis. Pertanyaan tentang latar belakang hipotesis menunjukkan bahwa siswa memiliki gagasan atau perkiraan untuk menguji atau memeriksanya. Dengan mengajukan pertanyaan diharapkan siswa tidak hanya sekedar bertanya tetapi melibatkan proses berpikir.

5. Pendekatan Terpadu (Integrated Approach)

Pendekatan ini intinya adalah memadukan dua unsur pembelajaran atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran dengan prinsip keterpaduan tertentu. Unsur pembelajaran yang dapat dipadukan dapat berupa konsep dan pro-ses, konsep dari satu mata pelajaran dengan konsep mata pelajaran lain, atau suatu metode dengan metode lain. Dengan prinsip keterpaduan antar unsur pembelajaran diharapkan terjadi peningkatan pemahaman ilmu yang lebih bermakna serta peningkatan wawasan dalam memandang suatu permasalahan.

Prinsip keterpaduan dapat diciptakan melalui jembatan berupa tema sentral sebagai fokus yang akan ditinjau dari beberapa konsep dalam satu atau beberapa bidang ilmu. Selain itu dapat pula melalui jembatan berupa target perilaku atau keterampilan tertentu yang dibutuhkan bukan hanya oleh satu disiplin ilmu saja.

Keragaman unsur yang dilibatkan dalam pembelajaran dapat memperkaya pengalaman belajar siswa, kegiatan belajar menjadi lebih dinamis dan menarik serta dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain itu apabila pendekatan terpadu ini dilakukan secara sistematis dapat mengefisienkan penggunaan waktu.

Albert Einstein, Ilmuwan Terbesar Abad 20


Albert Einstein (14 Maret 1879–18 April 1955) adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan "pengabdiannya bagi Fisika Teoretis".

Setelah teori relativitas umum dirumuskan, Einstein menjadi terkenal ke seluruh dunia, pencapaian yang tidak biasa bagi seorang ilmuwan. Di masa tuanya, keterkenalannya melampaui ketenaran semua ilmuwan dalam sejarah, dan dalam budaya populer, kata Einstein dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan jenius. Wajahnya merupakan salah satu yang paling dikenal di seluruh dunia.

Pada tahun 1999, Einstein dinamakan "Tokoh Abad Ini" oleh majalah Time. Kepopulerannya juga membuat nama "Einstein" digunakan secara luas dalam iklan dan barang dagangan lain, dan akhirnya "Albert Einstein" didaftarkan sebagai merk dagang.

Untuk menghargainya, sebuah satuan dalam fotokimia dinamai einstein, sebuah unsur kimia dinamai einsteinium, dan sebuah asteroid dinamai 2001 Einstein.

Biografi

Masa Muda dan Universitas

Einstein dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman; sekitar 100 km sebelah timur Stuttgart. Bapaknya bernama Hermann Einstein, seorang penjual ranjang bulu yang kemudian menjalani pekerjaan elektrokimia, dan ibunya bernama Pauline. Mereka menikah di Stuttgart-Bad Cannstatt. Keluarga mereka keturunan Yahudi; Albert disekolahkan di sekolah Katholik dan atas keinginan ibunya dia diberi pelajaran biola.

Pada umur lima tahun, ayahnya menunjukkan kompas kantung, dan Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini beraksi terhadap jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya. Meskipun dia membuat model dan alat mekanik sebagai hobi, dia dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya (diteliti setelah kematiannya). Dia kemudian diberikan penghargaan untuk teori relativitasnya karena kelambatannya ini, dan berkata dengan berpikir dalam tentang ruang dan waktu dari anak-anak lainnya, dia mampu mengembangkan kepandaian yang lebih berkembang. Pendapat lainnya, berkembang belakangan ini, tentang perkembangan mentalnya adalah dia menderita Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme.

Einstein mulai belajar matematika pada umur dua belas tahun. Ada gosip bahwa dia gagal dalam matematika dalam jenjang pendidikannya, tetapi ini tidak benar; penggantian dalam penilaian membuat bingung pada tahun berikutnya. Dua pamannya membantu mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal remaja dengan memberikan usulan dan buku tentang sains dan matematika.

Pada tahun 1894, dikarenakan kegagalan bisnis elektrokimia ayahnya, Einstein pindah dari Munich ke Pavia, Italia (dekat kota Milan). Albert tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolah, menyelesaikan satu semester sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia.

Kegagalannya dalam seni liberal dalam tes masuk Eidgenössische Technische Hochschule (Institut Teknologi Swiss Federal, di Zurich) pada tahun berikutnya adalah sebuah langkah mundur dia oleh keluarganya dikirim ke Aarau, Swiss, untuk menyelesaikan sekolah menengahnya, di mana dia menerima diploma pada tahun 1896, Einstein beberapa kali mendaftar di Eidgenössische Technische Hochschule. Pada tahun berikutnya dia melepas kewarganegaraan Württemberg, dan menjadi tak bekewarganegaraan.

Pada 1898, Einstein menemui dan jatuh cinta kepada Mileva Marić, seorang Serbia yang merupakan teman kelasnya (juga teman Nikola Tesla). Pada tahun 1900, dia diberikan gelar untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische Hochschule dan diterima sebagai warga negar Swiss pada 1901. Selama masa ini Einstein mendiskusikan ketertarikannya terhadap sains kepada teman-teman dekatnya, termasuk Mileva. Dia dan Mileva memiliki seorang putri bernama Lieserl, lahir dalam bulan Januari tahun 1902. Lieserl Einstein, pada waktu itu, dianggap tidak legal karena orang tuanya tidak menikah.

Kerja dan Gelar Doktor

Pada saat kelulusannya Einstein tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, keterburuannya sebagai orang muda yang mudah membuat marah professornya. Ayah seorang teman kelas menolongnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss pada tahun 1902. Di sana, Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk alat yang memerlukan pengetahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur bagaimana "menjelaskan dirinya secara benar". Dia kadang-kadang membetulkan desain mereka dan juga mengevaluasi kepraktisan hasil kerja mereka.

Einstein menikahi Mileva pada 6 Januari 1903. Pernikahan Einstein dengan Mileva, seorang matematikawan. Pada 14 Mei 1904, anak pertama dari pasangan ini, Hans Albert Einstein, lahir. Pada 1904, posisi Einstein di Kantor Paten Swiss menjadi tetap. Dia mendapatkan gelar doktor setelah menyerahkan thesis "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen" ("On a new determination of molecular dimensions") pada tahun 1905 dari Universitas Zürich.

Di tahun yang sama dia menulis empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang dapat ia tunjuk atau banyak kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang teorinya. Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis itu (tentang gerak Brownian), efek fotolistrik, dan relativitas khusus) pantas mendapat Penghargaan Nobel. Tetapi hanya thesis tentang efek fotoelektrik yang mendapatkan penghargaan tersebut. Ini adalah sebuah ironi, bukan hanya karena Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek fotoelektrik adalah sebuah fenomena kuantum, dan Einstein menjadi terbebas dari jalan dalam teori kuantum. Yang membuat thesisnya luar biasa adalah, dalam setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke konsekuensi logis dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade.

Dia menyerahkan thesis-thesisnya ke "Annalen der Physik". Mereka biasanya ditujukan kepada "Annus Mirabilis Papers" (dari Latin: Tahun luar biasa). Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi (IUPAP) merencanakan untuk merayakan 100 tahun publikasi pekerjaan Einstein di tahun 1905 sebagai Tahun Fisika 2005.

Gerakan Brown

Di artikel pertamanya di tahun 1905 bernama "On the Motion—Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat—of Small Particles Suspended in a Stationary Liquid", mencakup penelitian tentang gerakan Brownian. Menggunakan teori kinetik cairan yang pada saat itu kontroversial, dia menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang memuaskan setelah beberapa dekade setelah ia pertama kali diamati, memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga kontroversial.

Sebelum thesis ini, atom dikenal sebagai konsep yang berguna, tetapi fisikawan dan kimiawan berdebat dengan sengit apakah atom itu benar-benar suatu benda yang nyata. Diskusi statistik Einstein tentang kelakuan atom memberikan pelaku eksperimen sebuah cara untuk menghitung atom hanya dengan melihat melalui mikroskop biasa. Wilhelm Ostwald, seorang pemimpin sekolah anti-atom, kemudian memberitahu Arnold Sommerfeld bahwa ia telah berkonversi kepada penjelasan komplit Einstein tentang gerakan Brown.